Reposisi Paradigma terhadap Alam Semesta: Tawaran Refleksi Filosofis dan Teologis

Edy Syahputra Sihombing

Abstract


Abstract: The civilization of human life is formed as not separated from human relations with the universe. Science has emerged through human relations with the universe. Human culture and tradition are also formed through human relationship with nature. Moreover, human religious imagination is formed through human relations with the universe. Briefly, humans live and develop themselves from and in the universe. In early time, humans interpreted themselves as part of universe and united with the universe that without it humans could not live. Yet, in line with the development of science and human civilization, the human perspective on the universe also changes. The universe tends to be seen as an object which can be exploited for the sake of human needs. Finally, environmental damage that also takes a lot of victims is a consequence of human behavior. The holistic and relational paradigm of the universe as well as philosophical and theological reflections offer to reinterpret the sacredness of the universe with the aim of improving human relations with the universe which tends to be anthropocentric. KEYWORDS: universe, ecology.

 

ABSTRAK: Peradaban hidup manusia terbentuk tidak lepas dari relasi manusia dengan alam semesta. Ilmu pengetahuan bermunculan melalui relasi manusia dengan alam semesta. Kebudayaan dan adat-istiadat manusia juga terbentuk melalui relasinya dengan alam. Bahkan imajinasi religius manusia juga terbentuk melalui relasi manusia dengan alam semesta. Singkatnya, manusia hidup dan mengembangkan diri dari dan di dalam alam semesta. Sejak awal  manusia memaknai dirinya sebagai bagian dari alam semesta dan bersatu dengan alam semesta yang tanpanya manusia tidak bisa hidup. Akan tetapi dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan peradaban manusia, cara pandang manusia terhadap alam semesta turut berubah. Alam semesta cenderung dipandang sebagai objek yang dapat begitu saja dieksploitasi demi kebutuhan manusia. Akhirnya kerusakan lingkungan hidup yang juga memakan banyak korban menjadi konsekuensi atas perilaku manusia. Paradigma holistik dan relasional terhadap alam semesta serta refleksi filosofis dan teologis hendak memberikan tawaran untuk kembali memaknai sakralitas alam semesta dengan tujuan memperbaiki relasi manusia dengan alam semesta yang cenderung bersifat antroposentris. Kata-kata Kunci: alam semesta, lingkungan hidup, eksploitasi, dominasi, paradigma holistik, refleksi filosofis, refleksi teologis, etika ekosentris.


Full Text:

PDF

References


Pavithran, A Textbook of Environmental Economics (New Delhi: New Age International Publishers, 2008), 2.

Robert Imperato, Early and Medieval Christian Spirituality (Lanham, MD: University Press of America, 2002), 60.

Karen Armstrong, Masa Depan Tuhan: Dalam bagian satu Homo Religiosus (terj.) (Jakarta: Mizan, 2011).

Fred Hoyle, Facts and Dogmas in Cosmology Elsewhere (Cambridge, England, New York: Cambridge University Press, 1982), 13-4.

Martin Harun, Ensiklik Laudati Sri Paus Fransiskus (terj.) (Jakarta: Obor, 2015), 15

Kees Bertens, Sejarah Filsafat Yunani (Yogyakarta: Kanisius, 1999), 21-3.

F. Budi Hardiman, Filsafat Modern (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2007), 34-42.

A. Sonny Keraf, Filsafat Lingkungan Hidup: Alam Sebagai Sebuah Sistem Kehidupan (Yogyakarta: Kanisius, 2014), 33.

Fritjof Capra, The Web of Life: A New Scientific Understanding of Living Systems (New York: Anchor Books: 1996), 20.

Mark Olssen, Michel Foucault: Materialism and Education (London, New York: Routledge, 2016), 19.

Frederick Steiner, Humans Ecology: How Nature and Culture Shape Our World (Washington DC: Island Press, 2016), 1.

Marjorie Grene dan Debra Nails, Spinoza and The Sciences (Dordrecht: Reidel, 1986), 280.

Bambang Sugiharto dan Agus Rahmat, Wajah Baru Etika dan Agama (Yogyakarta: Kanisius, 2000), 60.

Gerald O’Collins dan Edward G. Ferrugia, Kamus Teologi (Yogyakarta: Kanisius, 1996), 314.

G. Pattison, The End of Theology and Task of Thinking about God (London: SCM Press, 1998), 91.

Leo Samosir, Agama dengan Dua Wajah: Refleksi Teologis atas Tradisi dalam Konteks (Jakarta: Obor, 2010), 148.




DOI: https://doi.org/10.33550/sd.v6i1.110

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution-NonCommercial 4.0 International License.

Publisher

 

MoU & Associations